Tantri Singa Lembu

I Wayan Punduh (1923–2010)

Date painted: 1997

Below left is the fight between singa dan lembu: Pada suatu hari para Sang Singa sedang mengadakan pertemuan dengan para pengikutnya dibawah pohon jati yang dedaunannya sedang rimbun,didepan goa besar Tampak hadir waktu itu Sambada,yang jongkok paling depan, disertai temannya para anjing. Semua bersuka ria,ada yang bercanda ada yang saling cakar.Suaranya memecah kesunyian hutan.Sang Singa amat suka melihatnya,lalu menyuruh pergi berburu mencari mangsanya.Para anjing tidak ada yang berani menolak ,semua berangkat masuk kedalam hutan,gunung,ada juga yang masuk kedalam jurang. Setelah lama berburu,mereka tidak ada menemui buruan. Para anjing amat sedih,karena sudah lama berburu namun tak mendapat buruan,Keringatnya mengucur membasahi sekujur tubuhnya, Sengatan panas matahari menambah kepayahan,jalannya terseok-seok kelaparan, Semua prajurit anjing itu berhenti dibawah pohon tangi untuk melepas lelah. Ada yang jongkok ada yang merebahkan badannya sambil omong-omong. Waktu itu ada yang mengatakan ,lebih baik kita pulang untuk menyampaikan pada raja,bahwa kita tak dapat buruan walaupun sudah susah payah mencarinya. Yang lain menjawab, Ini ada tutur dalam purana yang pernah saya dengar. Kewajiban seorang abdi pada sang raja,harusnya tidak merasakan pahit getirnya bahaya. Seorang abdi tidak boleh merasa takut,harus patuh menjalankan tugas,walaupn akan kehilangan nyawa,harus dihadapi. Karena itulah yang dipakai untuk membayar kasih sayang sang raja. Nah kalau menurut pikiranku lebih baik kita kembali lagi berburu,semoga sekarang ada nasib baik mendapat buruan.Semua prajurit aning itu berangkat kembali mencari buruan. Para anjing menyebar kesegala penjuru. Pada waktu itu ada prajurit anjing yang menemukan sang Nandaka. Para prajurit anjing itu tercengang melihat Sang Nandaka. Ah apa itu ,coba kamu lihat binatang yang amat besar! Dari dulu aku tidak pernah menjumpai binatang seperti ini besarnya. Sekarang marilah kita bersama serang,tapi kita harus hati-hati. Para prajurit anjing serempak mendekat disertai suara menggonggong bak membelah langit. Prajurit anjing iu segera mengitari tempat sang Nandaka yang sedang tidur-tiduran diatas rumput yang menghijau, sambil mengunyah dedaunan .Hatinya amat suka melihat tumbuhan yang subur diantara ilalang yang memenuhi tebing-tebing bebukitan. Sedang asik ia menikmati makanan dan keindahan alam ,terdengar olehnya raungan angjing yang semakin lama semakin dekat. Sang Nandaka bergegas bangun sambil melihat kanan kiri.Tampak olehnya prajurit anjing datang mendekat padanya . Para prajurit anjing itu amat senang hatinya melihat buruannya gemuk dan besar. Nah ini buruan yang baik untuk dijadikan mangsa sang raja, mari kita rebut bersama,jangan takut demikian ucapan salah satu anjing sambil segera mendekat. Anjing yang lain berkata, Nanti dulu,sebab baru kali ini kita menemui binatang seperti ini.Mari kita pikirkan lebih dahulu supaya tindakan kita bisa mencelakakan kita. Lebih baik kita sampaikan hal ini pada raja Ah jangan ,kita berbanyak ,kita serang bersama,jelas ia akan kalah . Semua prajurit anjing bersorak mendekat, ada yang dari belakang ada juga dari depan. Sang Nandaka bersiap untuk melawan,ia amat marah, matanya memblalak merah,tanduknya yang tajam diacung-acungkannya. Sang nandaka menandukkan tanduknya pada bebukitan,yang mengakibatkan bebatuan beterbangan . Banyak prahurit anjing itu yang terkena batu dan tandukan sang Nandaka .Ada yang patah kakinya adanya mati adayang perutnya terurai keluar. Darahnya berceceran meenuhi rerumputan yang hijau.Anjing yang luka berlarian menjauh dari amukan sang Nandaka. Anjing yang lain amat takut tak ada yang berani mendekat,semua lari bersembunyi, Pemimpin prajurit anjing yang bernama I Nohan Dan Itatit segera berkata, Hai kamu prajurit .Mengapa kamu takut kepada binatang yang memang menjadi makananmu?.Kamu datang kemari adalah utusan sang prabu untuk mencari buruan.Sepatutnya kamu merasa malu,karena kamu dari dulu disayangi dan dikasihi oleh sang raja.Kamu tak usah takut mati untuk membalas jasa sang raja.Sebab nantinya kamu akan memproleh kesejahtraan lahir batin karena kamu melaksanakan dharmamu sebagai prajurit,Mendengar kata kata pimpinannya demikian para anjing kembali menyerang Sang Nandaka.Ada yang menggigit kaki,ada yang menggigit ekor,tapi sang Nandaka tidak khawatir.Ia menerjang dengan tanduknya ,menyebabkan para anjing itu terpelanting jatuh . Ada yang terjatuh kejurang,ada yang patah kaki maupun pinggangnya. Banyak yang mati disepak maupun diinjak-injak.Para anjing itu berlarian menyembunyikan diri.Si Nohan dan Tatit tak bisa berbuat apa-apa melihat prajuritnya berlarian .Para prajurit anjing itu memutuskan kembali menghadap sang raja Setelah sampai dihadapan sang Singa semua gemetar ketakutan seraya berkata, Ya raja kami semua mohon maaf karena kami tak berhasil melaksanakan tugas yang tuanku limpahkan.Semua prajurit takut gemetaran, malah banyak yang mati maupun yang luka-luka.Baru kali ini kami melihat binatang yang besar dan bagus.Bulunya hitam mengkilat, tanduknya tajam menyilaukan, suaranya besar bagaikan meruntuhkan gunung.Benar-benar amat menakutkan sekali ,namun mengenai namanya kami tidak tahu. Mendengar perkataan prajuritnya gemetaran,sang raja tercengang terdiam .Sang Sambada pemuka para anjing yang turut mendengarkan segera berkata, Hai kamu para anjing yang dari dulu menjadi andalan sang raja. Aku heran mengapa kamu takut hanya baru mendengar suara yang besar. Belum tentu orang yang bersuara besar mempunyai kesaktian dan kekuatan yang hebat.Itu hanya suatu siasat untuk menakut-nakuti musuh saja. Begitu kata sang Sembada menasehati prajuritnya. Para prajurit anjing hatinya senang mendengar nasehat sang Sambada.Timbulah keberaniannya untuk menantang musuhnya kembali. Sang prabu Singa melihat prajuritnya yang datang menghadap banyak yang luka berceceran darah. Timbul dalam pikiran beliau,dari dulu tak ada musuh yang sehebat ini,yang bisa mengalahkan prajuritku.,seraya berkata, Sekarang aku akan menghadapinya. Bagaimana rupa dan kesaktiannya . Sang Singa segera berangkat, bersama pengikutnya. Prajurit anjing melolong menyusup dalam hutan, Suaranya tak putus-putus menggonggong. Gunung tersa terbelah, hutan hancur karena terjangan sang singa yang diliputi amarah. Binatang binatang berlarian menyembunyikan diri. Sang Nandaka sudah habis membersihkan diri dalam kolam yang airnya suci ening, Banyak bunga berwarna-warni, menarik minat para kumbang untuk mengisap madunya. Tampak sang Nandaka menikmati keindahan hutan,yang penuh dengan bermacam panorama Di bawah pohon beringin yang rindang sang Nandaka berbaring berteduh,sambil mengunyah rumput yang hijau. Mendengar suara anjing yang gemuruh Sang Nandaka bngun dari tempat pembaringan lalu menoleh kanan kiri. Tampak para prajurit anjing datang. Sang Nandaka segera mencari tempat perbukitan.Tanduknya yang tajam diasahnya pada bebatuan,matanya memblalak merah,seperti keluar api yang akan membakar hutan. Para prajurit anjing merasa ketakutan, semua mencari tempat berlindung dari serangan sang Nandaka.Tak seekorpun yang berani mendekat, semuasaling menoleh temannya.Semua berdiam tak ada yang bergerak maju,menunggu kedatangan sang Singa. Raja hutan pun datang,jalannya lambat,karena terkejutmelihat binatang yang besar berkulit hitam mengkilat,Hatinya juga merasa ketakutan,lalu berdiam di kejauhan seraya bertanya, hai kamu binatang yang besar,baru kali ini aku melihat binatang sepertimu? Tidak ada seekor binatang yang berani masuk kedalam hutan yang berbahaya ini. Banyak jurang yang dalam,gua yang lebar dan membahayakan.Aku adalah penguasa hutan ini, namaku raja Singa. Siapakah nama tuan,dan dari mana? Sang Nandaka berkata, Tuan raja hutan , Saya bernama Sang Nandaka.Saya dijadikan anak oleh sang Aruna dan Sang Surabi. Kedatangan saya kemari adalah untuk menikmatai keindahan dan mencari makanan . Sang Singa berkata dengan lemah lembut, Hai Tuan kalau demikian, tuan adalah putra para dewata yang utama. Tuan adalah merupakan tunggangan dewa utama yakni Bhatara Guru. Kalau demikian saya mohon dengan hormat ,kiranya tuan bisa menjadi teman karib ku. Janganlah tuan cepat-cepat pergi dari sini. Silahkan tuan menikmati makanan yang tuan inginkan.Saya bermaksud belajar dari tuan,semoga tuan bisa menerma saya,sebagai murid tuan. Muah-mudahan dari tuntunan tuan saya bisa mencapai kebahagian lahir batin. Sang Nandaka menjawab, Saya kira itu amat sulit bisa terjadi,karena tuan adalah seorang raja yang berkuasa, penuh dengan kekayaan. Demikian juga tuan makan daging,namun hamba makan rumput serta hamba binatang yang hina miskin tak mempunyai kekayaan. Tapi kalau tuan kepingin berteman pada hamba, maafkan arta, kama, tak bisa hamba persembahkan. Barangkali yang dapat hamba persembahkan adalah dharma, isi dari ajaran suci, kalau hal itu yang tuanku hedaki dengan senang hati hamba akan coba sampaikan. Semoga isi kitab sastra agama yang menjadi pegangan para pandeta bisa membawa umatnya untuk mencapai kesejahtraan dunia dan akhirat nanti.Hamba kira tuan sebagai seorang raja mengutamakan kesenangan indria,penuh dengan harta yang bergelimpangan, serta kepurusan, kegagah beranian, tak tertandingi oleh sesama,dan menguasai pengetahuan,demikian juga kerupawanan.Hal inilah yang biasanya menimbulkan rasa,loba,murka, mabuk diri. Tuanku sang raja hutan, kekayaan, kerupawnan, tidak akan dibawa mati.Tingkah laku yang baik atau buruklah yang akan menuntun kita keduni sana. Itulah sebabnya orang yang bijak dharmal selalu diperbuatnya.Menghindari pergaulan dengan orang jahat,karena orang demikian selalu berbuat tidak benar,selalu berbuat dirsila,menyakiti dunia ini,dan pembunuhan,menghina sang pandita. Amat senang hati sang Singa mendengar nasehat sang Nandaka,seperti air suci yang menghanyutkan kotoran yang ada dalam pikirannya seraya berkata merendah, Ya tuanku Sang Nandaka ,seperti pohon yang kekeringan mendapat hujan hati saya mendengar perkataan tuan. Saya harap tuan bisa melanjutkan tuntunan anda terhadap diri hamba yang nista ini. Kalau anda pikirkan semua kata anda adalah baik,karena keluar dari mulut orang suci seperti anda.yang penuh dengan ajaran dharma. Itu sebabnya hamba harap anda bisa melebur dosa-dosa hamba yang telah namba perbuat, melepas hamba dari neraka. Hamba menyerahkan diri sebagai siswa,untuk selalu diberi tuntunan suci dari guru. Dari sekarang hamba tidak lagi memakan daging,membunuh sesama mahluk, dan akan belajar makan rumput. Sang Nandaka berkata, Kalau tuan memang mempunyai pikiran yang menjauhkan diri dari perbuatan jahat,dan berusaha berbuat sesuai dengan ajaran dharma, mempelajari isi sastra suci, hamba akan menuruti permintaan tuanku. Sang Singa amat senang hatinya sebab telah diakui sebagai teman baik oleh sang Nandaka.Keduanya tiap hari selalu melaksanakan tapa brata semadi, mempelajari isi kitab sastra agama, makan rumput ,alang-alang.Tidak masih melakukan pembunuhan atau makan daging. Para anjing bersedih karena sang Singa sudah berubah perangainya,selalu bersama sang Nandaka makan rumput maupun dedaunan.Anjin-anjing tidak bisa makan rumput mengikuti tuannya. Oleh karena itu para anjing mengadakan pertemuan dibawah pohon yang dipimpin oleh sang Sambada. Sang Tatit mengatakan pada sang Sambada,bahwa anjing-anjing tidak mampu makan dedaunan, hingga sudah banyak anjing yang kelaparan. Badannya sudah mulai kurus, tidak tahan menanggung kelaparan. Sambada lalu berkata, Haikamu Tatit dan anjing sekalian, perbuatan raja Singa tak beda dengan crita burung atat/ kakak tua yang selalu turut dengan yang menemaninya. Demikian juaga peri laku sang prabu singa,yang selalu ikut dengan sang Nandaka,ikut makan rumput,Tapi kamu jangan sedih. Sekarang saya akan mencari daya upaya,supaya ia berdua berpisah berteman. Sang Sambada lalu meninggalkan anjing-anjing itu seraya berjalan mencari sang Nandaka. Kebetulan sang nandaka sudah selesai mandi membersihkan diri lalu pergi kebawah pohon kroya yang besar dan berdaun rindang.Di sanalah sang Nandaka tidur-tiduran diatas gundukan tanah, sambil memuja hyang. Tatkala itu datanglah sang Sambada menghadap dengan hormat. Sang Nandaka segera menyapa, Siapa namamu,dan apa tujuanmu datang? Ken Sambada berkata manis, Ya tuanku sang pendeta suci,putra sang Surabi, yang amat berguna menjadi tunggangan Betara Siwa. Tuan sudah tersohor didunia menjalankan darma thu dengan isi ajaran kitab suci. Tuanku amat sayang dan mengasihi segala yang ada dalam kesengsaraan. Menjalankan dharma sesui dengan isi kitab suci. Adapun ujuan hamba datang,ingin tahu kesetian tuanku berteman dengan raja Singa. Kenyataannya kebaikan dan kesetiaan tuanku berdua tk bisa hamba ceritakan akan keakrabannya. Hal ini tampak dari kedamaian dalam hutan ini,demikian juga dari ketenaran tuanku berdua,baik dalam kebajik dan kebijakan tuan berdua menjalankan pemerintahan. Demikian juga tidak ada kekurangan makanan dan minuman. Hamba mohon belas kasihan tuanku untuk menjadi hamba yang bodoh,murid tuanku,semoga hamba bisa mencapai kebahagian lahir batin.Iratu seorang yang suci dan bijak akan dapat menghilangkan kepapaan dan kenistaan. Kalau hamba umpamakan tuanku emas manik,walaupun ia berada dalam lumpur akan tetap dibilang emas manik,Demikian tuanku yang bijaksana walaupun tuanku bergaul dengan hamba yang nista ini ,akan tetap bijaksana juga. Tuanku bertujuan untuk melaksanakan dharma ,kebenaran demi tercapainya kebahagian dunia nyata maupun akhirat nantinya.Sangat berbeda dengan tujuan orang bodoh,hanya mementingkan kebahagian sekala/dunia nyata ini,dan lupa akan baik buruk yang akan datang,sebab di liputi oleh kemarahan /kebencian saja. Demikianlah Ratu pendeta Nandaka,orang yng tidak mau mengikuti kata-kata teman dan selalu diselimuti rasa amarah dan kedengkian, akan mendapat kecelakaan malah bisa kematian. Seperti halnya persahabatan i Titih dengan i Tuma yang mengakibatkan kematiannya. Saya berharap persabatan tuanku dengan Sang Singa yang berhati busuk tidak demikian. Nah demikianlah tidak ada gunanya belas ksih pada seseorang kalau yang dikasihi tidak bisa menerimanya.Demikian kata sang prabu Singa kepada hamba. Beliau juga amat menyesal karena telah terlanjur berteman pada tuanku sang Nandaka. Beliu merasakan dirinya seperti hancurnya manuk mangsa (burung pemakan daging) ,karena ulah burung Tuu-tuu. Begitu juga Sang Prabu Singa mengatakan dengan yakin,bahwa ia sampai lupa sebagai seorang raja binatang, karena tekun mempelajari darma,berkat kepandaian seorang mengarang dharma . Sekarang saya tahu akan akalnya sang Lembu,perbuatannya buruk mengatakan sadu (baik). Sampai saya makan rumput,akibatnya aku pucat kurus kering. Sampai keluarga prajurit semua,menahan lapar,karena aku kena tipu muslihat sang Lembu. Sastra gama dipakai supaya menarik,kenyataannya ia orang yang jahat.Baru aku tahu ia amat durhaka,tapi mengaku sadu. Merasa dengan badan gemuk besar,tanduk tajam.Aku tidak akan mendapat neraka kalau aku membunuh si Lembu Nandaka. Demikianlah kata sang Singa kepada hamba.Sang Nandaka berkata, Hai Paman Sambada,siapa yang turut mendengarkan kata sang Prabu Singa begitu? Saya sendirian ratu pendeta, karena yang menghadap hanya hamba seorang diri. Sang Nandaka tersenyum, Wah kalau demikian tidak bisa dipercaya,karena sama dengan perbuatan I Cewanggara dahulu,waktu bersama dengan Sri Dewantara, waktu mencari binatang buruan. Amat berbahaya orang yang berbicara tanpa ada saksi. Tidak benar diucapkan ,apalagi dalam pertemuan. Walaupun sebenarnya tidak berbohong,namun tanpa saksi itu tak patut diucapkan.Begitu juga seperti cerita Paman Sembada,hanya senang bicara tidak ada saksi. Demikian Sang Nandaka berceritra. Sang Sambada malu,karena akal mulusnya diketahui oleh sang Nandaka,lalu ia mohon pamit mendatangi sang Raja Singa,seraya berkata, Tuanku mharaja maafkan hamba baru bisa menghadap. Hamba baru datang dari tempatnya sang Pendeta Nandaka. Sang Nandaka menceritakan pada hamba tentang kejahatan perilaku sang Singa. Hai Paman Sambada aku ingin mengtahuinya. Coba Paman ceritakan

48 by 69 cm
Paper

Private Collection of Batuan, Singapore

Depicts: Tantri


photo: Ken Cheong