The priest who is greedy for money (Tantri Narrative)

I Wayan Punduh (1923–2010)

Date painted: 1980

Adalah seorang pendeta yang amat miskin,bernama Bagawan Dharma Swami. Beliau amat setia melaksanakan tapa semadi dan tiap hari melaksanakan pemujaan pada Hyang Surya. Melihat kesetiaan beliau melaksanakan tapa semadi serta pemujaan pada Hyang Widhi,maka beliau di anugrahi seekor lembu jantan kuat.Bulunya hitam berkilauan. Lembu/sapi itu diberi nama sang Nandaka. Sang pendeta amat suka memelihara sapi itu. Tiap hari beliau mengembalakan sapi itu dalam hutan yang penuh dengan daun dan rerumputan yang hijau. Sapi beliau cepat besar dan gemuk,karena tak kurang makanan..Sudah sore sapi itu dibawa ke pasraman. Demikianlah yang dikerjakan oleh sang pendeta tiap harinya. Kira-kira sudah setengah bulan beliau memelihara sapi itu, namun belum juga mendatangkan hasil. Beliau lalu ingat akan guru beliau yang dianugrahi seekor sapi putih,yang bernama Nandini. Sapi itu tiap hari bisa menghasilkan susu yang bisa menghidupi gurunya.Sekarang kita diberikan sapi laki,yang tak mungkin bisa menghasilkan susu.Apa yang bisa kita lakukan agar sapi ini bisa memberi manfaat bagi hidup kita. Kalau kita pakai untuk membajak sawah,kita tidak punya tanah sedikitpun.Demikianlah gejolak pikiran sang pendeta..Beliau lalu bermaksud menjadi pedagang kayu api. Dengan semangat yang besar beliau tiap hari masuk dalam hutan mencari ranting dan cabang kayu yang kering. Sudah berhasil lalu ditaruh diatas punggung sang Nandaka lalu dijual ke pasar.Demikianlah kerja sang pendeta tiap hari. Hasil penjualan kayu api itu dibelikan beras dan lauk pauk. Sisa uangnya disimpan dalam tabungan.Lama-kelamaan tabungan beliau di belikan sapi ,maupun gerobak untuk tempat kayu api yang akan dijial kepasar.Atas kerja keras dan keutamaan sang Nandaka tidak begitu lama sapi beliau sudah menjadi ratusan jumlahnya.Pembantu beliau juga semakin banyak.Emas berlian semakin banyak.Sang pendeta menjadi kaya tak kurang suatu apa. Pada suatu hari sang pendeta bersama pengiringnya sudah siap membawa dagangan kekota.Ratusan sapi gerobak penuh dengan barang dagangan.Sapi sudah siap berjajar menarik gerobak dagangan,tak luput sang Nandaka yang berada paling belakang.dengan muatan yang paling banyak pula. Sapi-sapi menarik grobak mulai bergerak menuju kota.Perjalan tak pernah berhenti walaupun di tengah hari.Sinar matahari amat tersa menyengat.Pengiring dan sapi berkeringat membasahi tubuhnya. Sudah jauh berjalan dan hari sudah sore,perjalanan sedang dalam hutan rimba yang mengerikan. Hutan itu terkenal bernama hutan Malawa,disana terkenal banyak perampok dan binatang buas yang menakutkan. Matahari semakin condong kebarat. Pendeta Dharma Swami lalu memerintahkan pengiringnya mencari tempat yang aman untuk tempat bermalam. Sang pendeta berjalan menunggang kuda modar-mandir memeriksa pengikut beserta gerobak yang ditarik oleh sapi. Setelah sang pendeta mendapat tempat yang aman untuk bermalam semua pengikut dan barang dagangannya ditempatkan di tengah dan dikelilingi dengan renjau. Semua sapi telah dilepas dari tali gerobak serta diberi makan,namun gerobak yang ditarik oleh sang Nandaka belum juga datang. Sudah lama menunggu sang Nandaka juga belum datang.Sang pendeta semakin gusar hatinya,Lalu beliau kembali menelusuri jalan yang dilalui tadinya untuk mencari Sang Nandaka. Sang Nandaka yang menarik gerobak yang penuh berisi barang dagangan,erasa kepanasan,seraya berkata dalam hatinya,:Dari dulu semenjak beliau masih miskin tak punya apa-apa kita sudah menarik barang dagangan untuk dijual ke kota,sampai beliau kaya tak kurang suatu apa kita masih juga disuruh menarik gerobak. Malahan bebannya melebihi dari beban yang dibebani pada sapi yang lainnya. Sama sekali beliau tidak mempunyai rasa berterima kasih apalagi kasihan pada kita.Kekayaan beliau yang berlimpah seperti sekarang juga karena kita. Emas ,perak ,uang serta sapi yang ratusan banyaknya juga dari kita,tapi beliau tetap menyakiti diriku sampai kurus seperti sekarang. Tidak pantas beliau bernama Dharma Swami ,tingkah lakunya amat loba dan tamak,lupa akan bantuan orang lain. Dilihatnya Begawan Dharma Swami datang menunggangi kuda,sang Nandaka segera merebahkan dirinya seperti lumpuh. Badannya gemetar,keringatnya mengucur membasahi badannya. Matanya memblalak,napasnya sesak,kakinya dinaikanya. Sang pendeta segera turun dari kudanya lalu mendekati sang nandaka. Beliau terkejut melihat keadaan sang Nandaka sambil menyuruh pengikutnya melepaskan talinya. Sudah itu pengikutnya menyiram sang Nandaka dengan air, tapi sang nandaka masih seperti pingsan. Sang pendeta segra mengucapkan weda mantra untuk mengembalikan sang Nandaka sepwerti semula, tapi tidak mempan. Sang Nandaka masih juga tampaknya seperti pingsan. Sang Pendeta bersedih serta menangis seraya berkata,: Hai kamu sang Nandaka rela sekali kamu meninggalkan aku mati. Kalau kamu mati disini siapa yang aku suruh menyembelihmu, karena disini alas besar, tak ada tukang potong sapi yang lalu kemari.. Kasihan sekali dagingmu terbuang tak berguna,tak ada yang membelinya. Hai kamu Kembar dan Wijil kamu menunggu disini.Kalau ia bisa idup kembali,bawa ia ketempat penginapan dan muati ia barang dagangan semampunya, kalau ia mati bangkainya kamu bakar saja. Kalau ada orang yang lalu kemari dagingnya kamu jual saja,kalau ia tidak mau membeli silahkan beri minta dengan cuma-cuma. Sang Pendeta segra naik kuda dan pergi menuju tempat penginapan. Kembar dan Wijil ,menyesalkan perbuatan sang pendeta yang tamak dan loba,serta tidak mempunyai rasa berterimakasih apalagi kasihan terhadap Sang Nandaka yang telah banyak berkorban untuk kesejahtraan sang pendeta.I Kembar berkata,:Bagaimana akal kita sekarang,sebab disini hutan yang besar dan berbahaya.Kita berdua akan menemui bahaya. Sekarang mari kita ikuti perjalanan sang pendeta ke tempat penginapan . Ah jangan kita sudah berjanji menunggu sang nandaka disini. Sekarang mari kita carikan kayu api kumpulkan dari tempat sang Nandaka sampai jarak yang agak jauh. Dari situ kita bakar kayu api itu,sebab tidak boleh membakar orang yang masih hidup karena akan membawa bencana besar. Kita perkirakan api itu sampai ditempat ini, sang Nandaka sudah mati. Keduanya sudah setuju, lalu mereka mengumpulkan kayu api ,serta membakar ujung timbunan kayu yang jauh dari tempatnya Sang Nandaka. Habis membakar kayu itu kedua pengikut sang pendeta berlari menuju tempat penginapan dan menyampaikan pada sang pendeta bahwa Sang Nandaka telah mati serta telah dibakar. Setelah Kembar dan Wijil pergi ke penginapan ,Sang Nandaka sewgera bangun dan pergi .Ia dalam keadaan sehat takkurang suatu apa.Sang Nandaka mencari makanan yang banyak ada disekitarnya. Setiap hari ia menikmati hijaunya rerumputan ,maupun suburnya dedaunan,sehingga tak berselang lama badannya kembali sebagai sedia kala. Perutnya besar,badannya kokoh ,bulunya hitam mengkilat,tanduknya runcing menakutkan

37.5 by 25.5 cm
watercolour on drawing paper

Private Collection of Batuan, Singapore

Depicts: Tantri


photo: Ken Cheong