Smara Ratih

I Made Cekeg (1964–)

Date painted: 2004

Ada raksasa sakti yang menyerang kahyangan (kerajaan para Dewa). Raksasa ini hanya bisa dikalahkan oleh anak Dewa Siwa. Tetapi saat itu Dewa Siwa sedang bertapa (semadi, yoga) dan tidak bisa diganggu. Para Dewa sudah melakukan beberapa cara untuk membangunkan Dewa Siwa dari tapanya tetapi tidak berhasil. Akhirnya dikirimlah Dewa Smara (Dewa Cinta) untuk menggoda tapa Dewa Siwa. Dewa Smara menyebabkan Dewa Siwa rindu pada istrinya, Dewi Uma. Dewa Siwa bangun dari tapanya dan menemui istrinya sehingga bisa menyebabkan istrinya hamil. Tetapi Dewa Siwa kemudian sadar bahwa Dewa Smara berperan dalam menggagalkan tapanya. Dia sangat marah, dan kemarahannya menyebabkan Dewa Smara hancur menjadi abu. Dewi Ratih, pasangan Dewa Smara sangat sedih melihat kejadian ini dan minta agar diapun dihanguskan menjadi abu. Permintaannya dikabulkan dan abu kedua pasangan cinta ini ditaburkan ke dunia. Sehingga timbullah cinta di dunia seperti saat ini. ***** Diatas Dewa Shiva dan Dewi Parvathi menaburkan abu Dewa Smara dan Dewi Ratih. Penaburan abunya Dewi Ratih dan Dewa Smara ke bumi. Sehingga cinta tidak akan pernah putus di bumi. Cerita bermula dari Dewa Smara yang mengganggu tapanya Dewa Shiva.

50 by 80 cm
Paper

Private Collection of Batuan, Singapore


photo: Ken Cheong